Macam-macam Skala Pengukuran, Instrumen Penelitian, Cara Menyusun Instrumen, Contoh Judul Penelitian dan Instrumen Yang Dikembangkan, Validitas dan Reliabilitas instrument, dan Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen. - MahasiswaAbadi

MahasiswaAbadi

Blog ini berisi materi- materi kuliah yang mungkin berguna bagi pengunjung

Boxed(True/False)

test banner

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Macam-macam Skala Pengukuran, Instrumen Penelitian, Cara Menyusun Instrumen, Contoh Judul Penelitian dan Instrumen Yang Dikembangkan, Validitas dan Reliabilitas instrument, dan Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen.

Share This


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam penelitian kuantitatif, peneliti akan menggunakan instrumen untuk mengumpulkan data, sedangkan dalam penelitian kualitatif- naturalist peneliti akan lebih banyak menjadi instrument, karena dalam penelitian kualitatif peneliti merupakan key instruments.
Instrument penelitian digunakan untuk mengukur nilai variabel yang diteliti. Dengan demikian jumlah instrument yang akan digunakan untuk penelitian akan tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Bila variabel penelitiannya lima, maka jumlah instrument yang digunakan untuk penelitian juga lima. Instrumen- instrumen penelitian sudah ada yang dibakukan, tetapi masih ada yang harus dibuat peneliti sendiri. karena instrumen penelitian akan digunakan untuk melakukan pengukuran dngan tujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat, maka setiap instrumen harus mempunyai skala. Bermacam- macam skala pengukuran akan dibahas dalam makalah ini.

1.2. Rumusan Masalah
1.      Bagaimana menjelaskan Macam-macam Skala Pengukuran
2.      Bagaimana menjelaskan Instrumen Penelitian
3.      Bagaimana menjelaskan Cara Menyusun Instrumen
4.      Bagaimana menjelaskan Contoh Judul Penelitian dan Instrumen Yang  Dikembangkan
5.      Bagaimana menjelaskan Validitas dan Reliabilitas instrumen
6.      Bagaimana menjelaskan Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen

1.3. Tujuan
      Untuk menjelaskan Macam-macam Skala Pengukuran, Instrumen Penelitian, Cara Menyusun Instrumen, Contoh Judul Penelitian dan Instrumen Yang  Dikembangkan, Validitas dan Reliabilitas instrument, dan Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Macam-macam Skala Pengukuran
Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif. Sebagai contoh, misalnya timbangan emas sebagai instrument untuk mengukur berat emas, dibuat dengan skala mligram (mg) dan akan menghasilkan data kuantitatif berat emas dalam satuan mg bila digunakan untuk mengukur; meteran sebagai instrumen untuk mengukur panjang dibuat dengan skala mm, dan akan menghasilkan data kuantitatif panjang dengan satuan mm.
Dengan skala pengukuran ini, maka nilai variabel yang diukur dengan instrumen tertentu dapat dinyatakan dalam bentuk angka, sehingga akan lebih akurat, efisien, dan komunikatif. Macam-macam skala pengukuran dapat berupa: skala nominal, skala ordinal, skala interval, dan skala rasio, dari skala pengukuran itu akan diperoleh data nominal, ordinal, interval, dan rasio.
Berbagai skala sikap yang dapat digunakan untuk penelitian administrasi, pendidikan dan social antara lain adalah:
1.      Skala Likert
Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian, fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel peneliti.
2.      Skala Guttman
Skala pengukuran dengan tipe ini, akan didapat jawaban yang tegas, yaitu “ya-tidak”; “benar-salah”; “pernah-tidak pernah”; “positif-negatif” dan lain-lain. Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau rasio dikhotomi (dua alternatif).
3.      Semantic Defferensial
Skala pengukuran yang berbentuk semantic defferensial dikembangkan oleh Osgood. Skala ini juga digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang jawaban “sangat positifnya” terletak dibagian kanan garis, dan jawaban yang “sangat negatif” terletak dibagian kiri garis, atau sebaliknya. Data yang diperoleh adalah data interval, dan biasanya skala ini digunakan untuk mengukur sikap/ karakteristik tertentu yang dipunyai oleh seseorang.
4.      Rating Scale
Dari ketiga skala pengukuran seperti yang telah dikemukakan, data yang diperoleh semuanya adalah data kualitatif  yang kemudian dikuantitatifkan. Tetapi dengan rating scale data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif..

2.2. Instrumen Penelitian
Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena sosial maupun alam. Meneliti dengan data yang sudah ada lebih tepat kalau dinamakan membuat laporan dari pada melakukan penelitian. Namun demikian dalam skala yang palin rendah laporan juga dapat dinyatakan sebagai bentuk penelitian (Emory, 1985).
Karena pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasanya dinamakan instrumen penelitian. Jadi instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Secara spesifik semua fenomena ini disebut variabel penelitian.
Instrumen- instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel dalam ilmu alam sudah banyak tersedia dan telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Variabel- variabel dalam ilmu alam misalnya panas, maka instrumennya adalah kalorimeter, variabel suhu maka instrumennya adalah thermometer, variable panjang maka instrumennya adalah mistar (meteran), variabel berat maka instrumennya adalah timbangan berat. Instrument-instrumen tersebut mudah didapat dan telah teruji validitas dan reliabilitasnya, kecuali yang rusak dan palsu. Instrumen- instrumen yang rusak atau palsu bila digunakan untuk mengukur harus diuji validitas dan reliabilitasnya terlebih dahulu.
Instrumen- instrumen dalam penelitian sosial memang ada yang sudah tersedia dan telah teruji validitas dan reliabilitasnya, seperti instrumen untuk mengukur motif berprestasi, (n-ach) untuk mengukur sikap, mengukur IQ, mengukur bakat dan lain-lain.
Walaupun instrumen- instrumen tersebut sudah ada tetapi sulit untuk dicari, dimana harus dicari dan apakah bisa dibeli atau tidak. Selain itu instrumen- instrumen dalam bidang sosial walaupun telah teruji validitas analisis reliabilitasnya, tetapi bila digunakan untuk tempat tertentu belum tentu tepat dan mungkin tidak valid dan reliabel lagi. Hal ini perlu dimaklumi karena gejala/ fenomena sosial itu cepat berubah dan sulit dicari kesamaannya.

2.3. Cara Menyusun Instrumen
Instrumen- instrumen penelitian dalam bidang sosial umumnya dan khususnya bidang bisnis yang sudah baku sulit ditemukan. Untuk itu maka peneliti harus mampu membuat instrumen yang akan digunakan untuk penelitian.
Titik tolak dari penyusunan adalah variabel- variabel penelitian yang ditetapkan untuk diteliti. Dari variabel- variabel tersebut diberikan definisi operasionalnya, dan selanjutnya ditentukan indikator yang akan diukur. Dari indikator ini kemudian dijabarkan menjadi butir-butir pertanyaan atau pernyataan. Untuk memudahkan penyusunan instrumen, maka perlu digunakan “matrik pengembangan instrumen” atau “kisi-kisi instrumen”.
Untuk biasa menetapkan indikator-indikator dari setiap variabel yang diteliti, maka diperlukan wawasan yang luas dan mendalam tentang variabel yang diteliti, dan teori- teori yang mendukungnya. Penggunaan teori untuk menyusun instrumen harus secermat mungkin agar diperoleh indikator yang valid.
Parasuraman dan Berry (1990) memberikan dimensi, indikator dan contoh pertanyaan tentang kualitas pelayanan seperti ditunjukkan pada table 6.4 dalam buku.
Selanjutnya, Robert M. Ranftl (1982) mengemukakan indikator manajemen yang efektif dilihat dari variabel planning, organizing and staffing, directing, control, communication, space and facilities.
Murray & Raphel (1995) mengemukakan bahwa, loyalitas pelanggan dapat disusun sebagai berikut:
1.      Penganjur, adalah pelanggan yang sedemikian puasnya dengan produk/ jasa yang mereka terima, sehingga mau menganjurkan kepada orang lain untuk membelinya.
2.      Klien, adalah pembeli yang puas atas produk/ jasa yang mereka peroleh, sehingga mereka mau menyebarkan informasi yang telah dialami ke orang lain.
3.      Pengulang, adalah pembeli yang puas atas produk/ jasa yang mereka peroleh, sehingga mereka secara regular akan memakai produk atau jasa tersebut.
4.      Kontak emosional, adalah calon pembeli yang telah yakin untuk mengunjungi suatu toko, paling tidak sekali. Tetapi ia masih belum membeli.
5.      Prospek, adalah orang-orang yang mengenal produk/ jasa tetapi belum pernah masuk ke tokonya, serta belum pernah membeli produk/jasa yang bersangkutan.
Selanjutnya Hill (1996:60) mengemukakan loyalitas pelanggan dibagi menjadi enam tahapan yang tersusun dalam piramida yaitu:
1.      Suspect, meliputi semua orang yang diyakini akan membeli (membutuhkan) barang/ jasa tetapi belum memiliki informasi tentang barang/ jasa perusahaan.
2.      Prospect, adalah orang-orang yang memiliki kebutuhan akan jasa tertentu, dan mempunyai kemampuan untuk membelinya.
3.      Customer, pada tahap ini, pelanggan sudah melakukan hubungan transaksi dengan perusahaan, tetapi tidak mempunyai perasaan positif terhadap perusahaan, loyalitas pada tahap ini belum terlihat.
4.      Clients, meliputi semua pelanggan yang telah membeli barang/ jasa yang dibutuhkan dan ditawarkan perusahaan secara teratur, hubungan ini berlangsung lama dan mereka telah memiliki sifat retention.
5.      Advocates, pada tahap ini, clients secara aktif mendukung perusahaan dengan memberikan rekomendasi kepada orang lain agar mau membeli barang/ jasa di perusahaan tersebut.
6.      Partners, pada tahap ini telah terjadi hubungan yang kuat dan saling menguntungkan antara penyedia jasa dan pelanggan, dan pada tahap ini pula pelanggan berani menolak produk/ jasa dari perusahaan lain.

2.4. Contoh Judul Penelitian dan Instrumen Yang  Dikembangkan
Judul penelitian:
GAYA DAN SITUASI KEPEMIMPINAN SERTA PENGARUHNYA TERHADAP IKLIM KERJA ORGANISASI
Judul tersebut terdiri atas dua variabel independen dan satu dependen .masing masing instrumennya adalah:
a.       Instrumen untuk mengukur variabel gaya kepemimpinan
b.      Instrumen untuk mengukur variabel situasi kepemimpinan
c.       Instrumen untuk mengukur variabel iklim kerja organisasi
Supaya penyusunan instrument lebih sistematis, sehingga mudah untuk dikontrol, dikoreksi, dan konsultasikan pada orang ahli, maka sebelum instrument disusun menjadi item- item instrument.
Selanjutnya untuk menyusun item- item instrumen, maka indikator dari variabel yang akan diteliti dijabarakan menjadi item- item instrument. Item- item instrumen harus disusun dengan bahasa yang jelas sehingga semua pihak yang berkepentingan tahu apa yang dimaksud dalam item instrument tersebut. Indikator- indikator variabel itu sering disebut suatu ‘’construct’’ dari suatu instrument, yang dalam membuatnya diperlukan berbagai konsep dan teori serta hasil penelitian yang memadai.
Instrument tentang gaya kepemimpinan itu dikembangkan dari teori kepemimpinan situasional. oleh karena itu gaya kepemimpinan yang baik, tergantung pada situasinya. pada saat menjelaskan tugas- tugas kelompok maka ia harus bergaya direktif, pada saat menunjukan hal-hal yang dapat menarik minat anggotanya maka ia harus bergaya suportif, dan untuk merumuskan tujuan kelompok maka ia bergaya partisipatif. Jadi tidak berarti gaya kepemimpinan yang baik itu yang parstisipatif saja.
Dengan istrumen tentang gaya kepemimpinan itu, maka akan dapat digunakan untuk mengukur kualitas gaya kepemimpinan seseorang atau kelompok orang pada lembaga tertentu. Sebaik apa gaya yang ditampilkan oleh seseorang akan dapat diukur dan diketahui secara kuantitatif. Cara menghitung seperti contoh instrument tata ruang diatas, atau pada bab tentang analisis data.
Item- item (butir) instrumen gaya kepemimpinan itu sifatnya masi umum, untuk lebih spesifiknya maka item- item tersebut perlu dikaitkan dengan tugas-tugas pemimpinan sehari-hari. Menilai pemimpinan akan lebih obyektif bila sumber datanya menggunakan berbagai kelompok yang terlibat dengan pekerjaan pemimpin. Untuk itu maka akan obyektif bila sumber datanya adalah:
1.      Bawahan
2.      Teman Kerja
3.      Atasan(bila ada)
4.      Yang bersangkutan (pemimipin menilai dirinya sendiri)
 2.5. Validitas dan Reliabilitas instrument
Dalam hal ini perlu dibedahkan antara hasil penelitian yang valid dan riabel dan instrumen yang valid dan riabel. Hasil penelitian yang valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti. kalau dalam obyek berwarna merah, sedangkan data yang terkumpul memberikan data berwarna putih maka hasil penelitian tidak valid.selanjutnya hasil penelitian yang reliabel, bila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda.kalau dalam obyek kemarin berwarna merah, maka sekarang dan besok tetap berwarna merah.
Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Meteran yang valid dapat digunakan untuk mengukur panjang dengan teliti, karena meteran memang alat untuk mengukur panjang. Meteran tersebut menjadi tidak valid jika digunakan untuk mengukur berat. Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghsilkan data yang sama. Alat ukur panjang dari karet adalah contoh instrumen yang tidak reliable/ konsisten.
Dengan menggunakan instrument yang valid dan reliabel dalam mengumpulkan data, maka diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan reliabel. Jadi instrumen yang valid dan reliabel merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliabel. Instrumen- instrumen dalam ilmu alam, misalnya meteran, thermometer, timbangan, biasanya telah diakui validitasnya dan reliabilitasnya (kecuali instrumen yang sudah rusak dan palsu). Instrumen-instrumen itu dapat dipercaya validitas dan realibilitasnnya karena sebelum instrument itu digunakan/ dikeluarkan dari pabrik telah diuji validitas dan reliabilitasnya/ ditera.
Instrumen-instrumen dalam ilmu sosial sudah ada yang baku (standar), karena telah teruju validitas dan reliabilitasnya, tetapi banyak juga yang belum baku bahkan belum ada. Untuk itu maka peneliti harus mampu menyusun sendiri instrumen pada setiap penelitian dan menguji validitas dan reliabilitasnya.instrumen yang tidak teruji validitas dan reliabilitasnya bila digunakan untuk penelitian akan menghasilkan data yang sulit di percaya kebenarannya.
Instrumen yang reliabel belum tentu valid. Meteran yang putus dibagian ujungnya, bila digunakan berkali-kali akan menghasilkan data yang sama (reliabel)  tetapi selalu tidak valid. Hal ini disebabkan karena instrument ( meteran) tersebut rusak. Pada dasarnya terdapat dua macam istrumen, yaitu istrumen yang berbentuk test dan mengukur prestasi belajar dan instrument yang nontest untuk mengukur  sikap. Instrumen yang berupa test jawabannya adalah ‘’salah atau benar’’ sedangkan instrumen sikap jawabannya tidak ada yang ‘’salah atau benar’’ tetapi bersifat’’ positif  dan negatif’’.
Penelitian yang mempunyai validitas internal, bila data yang dihasilkan merupakan fungsi dari rancangan dan instrumen yang digunakan. Instrumen tentang kepemimpinan akan menghasilakan,bukan motivasi. Penelitian yang mempunyai validitas eksternal bila, hasil penelitian dapat diterapkan pada sampel yang lain,atau hasil penelitian itu dapat digeneralisasikan. Validitas internal instrument yang berupa test harus memenuhi construct validity (validitas konstrak) dan content validity (validitas isi). Sedangkan untuk instrumen yang nontest digunakan untuk mengukur sikap cukup memenuhi validitas konstrak  (consrust).
 2.6. Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen
            Berikut ini dikemukakan cara pengujian validitas dan reliabilitas instrumen yang akan digunakan untuk penelitian.
1.      Pengujian Validitas Instrumen
a.       Pengujian Validitas Kontstrak (Construct validity)
      Untuk menguji validitas konstruksi, dapat menggunakan pendapat dari ahli (judgment experts). Dalam hal ini setelah instrument dikonstruksi tentang aspek-aspek yang akan diukur berdasarkan teori tertentu, maka selanjutnya dikonsultasikan dengan para ahli. Setelah pengujian konstruksi dari ahli dan berlandaskan pengalaman empiris dilapangan selesai, maka diteruskan dengan uji coba instrumen. instrumen tersebut dicobakan pada sampel dari mana populasi diambil.
b.      Pengujian Validitas Isi (content Validity)
      Untuk instrumen yang berbentuk test, pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dengan materi pelajaran yang telah diajarkan. Secara teknis pengujian validitas konstrak dan validitas isi dapat dibantu dengan menggunakan kisi-kisi instrumen,atau matrik pengembangan instrument.
c.       Pengujian Validitas Eksternal
      Validitas eksternal instrumen diuji dengan cara membandingkan (untuk mencari kesamaan) antara kriteria yang ada pada instrumen dengan fakta- fakta empiris yang terjadi dilapangan. Instrumen penelitian yang mempunyai validitas eksternal yang tinggi akan mengakibatkan hasil penelitian mempunyai validitas eksternal bila hasil penelitian dapat digeneralisasikan atau diterapkan pada sampel lain dalam populasi yang diteliti. Untuk meningkatkan validitas eksternal penelitian selain meningkatkan validitas eksternal instrument maka dapat dilakukan dengan memperbesar jumlah sampel.
2.      Pengujian Reliabilitas Instrumen
      Pengujian reliabilitas instrumen dapat dilakukan secara eksternal maupun internal, secaraeksternal pengujian dapat dilakukan dengan test- retest (stability), equivalent, dan gabungan keduannya. Secara internal reliabilitas instrumen dapat diuji dengan menganalisis konsistenst butir-butir yang ada pada instrumen dengan teknik tertentu.
a.       Test-retest
            Instrumen penelitian yang reliabilitasnya diuji dengan test- retest dilakukan dengan cara mencobakan instrumen beberapa kali pada responden. Jadi dalam hal ini instrumennya sama, respondennya sama, dan waktunya yang berbeda. Reliabilitas diukur dari koefisien korelasi antara percobaan pertama dengan yang berikutnya, Bila koefisien korelasi positif dan signifikan maka instrumen tersebut sudah dinyatakan reliabel. Pengujian cara ini sering juga disebut stability.
b.      Ekuivalen
            Instrumen yang ekuivalen adalah pertanyaan yang secara bahasa berbeda. tetapi maksudnya sama. Pengujian reliabilitas instrumen dengan cara ini cukup dilakukan sekali. tetapi instrumennya dua, pada responden yang sama, waktu yang sama. instrumen yang berbeda. Reliabilitas instrumen dihitung dengan cara mengkolerasikan antara data instrument yang dijadikan equivalent. Bila korelasi positif dan signifikan, maka instrument dapat dinyatakan reliabel.
c.       Gabungan
            Pengujian realibilitas ini dilakukan dengan cara mencobakan dua instrumen yang equivalent itu beberapa kali, keresponden yang sama. Jadi cara ini merupakan gabungan pertama dan kedua.Realibilitas instrumen dilakukan dengan  mengkorelasikan pada pengujian kedua, dan selanjutnya dikolerasikan secara silang.

                                  



Jika dengan dua kali pengujian dalam waktu yang berbeda, akan dapat dianalisis enam koefisien reliabilitas. Bila keenam koefisien korelasi itu semuanya positif dan signifikan, maka dapat dinyatakan bahwa instrumen tersebut reliabel.
d.      Internal Consistency
            Pengujian realibilitas dengan internal consistency, dilkukan dengan cara mencobakan instrument sekali saja. kemudian data yang diperoleh di analisis dengan teknik tertentu. Hasil analisis dapat digunakan untuk memprediksi reliabilitas instrumen.
Pengujian reliabilitas instrumen dapat dilakukan dengan teknik belah dua dari Spearman Brown (Split half), KR. 20, KR 21 dan Anova Hoyt.
1)      Rumus Spearman Brown:



 


Di mana:
ri = reliabilitas internal seluruh instrumen
rb= korelasi product moment antara belahan pertama dan kedua
2). Rumus KR. 20 (Kuder Richardson)
dimana:
k = jumlah item dalam instrument
pi = proporsi banyaknya subyek yang menjawab pada item 1
qi = 1- pi
s2i = varians total

3). Rumus KR 21
Dimana:
k = jumlah item dalam instrument
M = mean skor total
S2i = varians total

4). Analisis Varians Hoyt (Anova Hoyt)
Dimana:
MKs = mean kuadrat antara subyek
MKe = mean kuadrat kesalahan
ri = reliabilitas instrumen
3.      Contoh Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Instrumen yang akan diuji adalah instrumen Gaya Kepemimpinan Manejer.
a.       Pengujian validitas instrumen
Pengujian validitas tiap butir digunakan analisis item, yaitu mengkolerasikan skor tiap butir dengan skor total yang merupakan jumlah tiap skor butir.
b.      Pengujian Realibilitas Instrumen
Pengujian realibilitas instrumen dapat dilakukan dengan internal consistency dengan teknik belah dua (split half) yang dianalisis dengan rumus spearman brown.untuk keperluan itu maka butir-butir istrumen dibelah menjadi dua kelompok, yaitu kelompok ganjil dan kelompok genap.           













BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif. Berbagai skala sikap yang dapat digunakan untuk penelitian administrasi, pendidikan dan sosial antara lain adalah: Skala Likert, Skala Guttman, Semantic Defferensial, dan Rating Scale. Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena sosial maupun alam. Meneliti dengan data yang sudah ada lebih tepat kalau dinamakan membuat laporan dari pada melakukan penelitian. Namun demikian dalam skala yang palin rendah laporan juga dapat dinyatakan sebagai bentuk penelitian (Emory, 1985).
Titik tolak dari penyusunan adalah variable-variabel penelitian yang ditetapkan untuk diteliti. Dari variable-variabel tersebut diberikan definisi operasionalnya, dan selanjutnya ditentukan indicator yang akan diukur. Dari indicator ini kemudian dijabarkan menjadi butir-butir pertanyaan atau pernyataan. Untuk memudahkan penyusunan instrument, maka perlu digunakan “matrik pengembangan instrument” atau “kisi-kisi instrumen”. Dalam hal ini perlu dibedahkan antara hasil penelitian yang valid dan riabel dan instrumen yang valid dan riabel. Hasil penelitian yang valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti.kalu dalam obyek berwarna merah, sedangkan data yang terkumpul memberikan data berwarna putih maka hasil penelitian tidak valid. selanjutnya hasil penelitian yang reliabel, bila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda.kalau dalam obyek kemarin berwarna merah,maka sekarang dan besok tetap berwarna merah. Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Meteran yang valid dapat digunakan untuk mengukur panjang dengan teliti, karena meteran memang alat untuk mengukur panjang. Meteran tersebut menjadi tidak valid jika digunakan untuk mengukur berat. Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghsilkan data yang sama. Alat ukur panjang dari karet adalah contoh instrumen yang tidak reliabel/ konsisten.
3.2. Saran
semoga dengan selesainya makalah ini, dapat bermanfaat bagi kita dan semua pihak pembaca. Makalah ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu, saya sangat mengharapkan masukkan berupa kritik dan saran yang membangun sehingga untuk kedepannya proses pembuatan makalah bias lebih baik lagi dari sebelumnya.


























DAFTAR PUSTAKA
Prof. Dr. SUGIYONO. 2010. Metode Penelitian Bisnis (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D). ALFABETA, CV. Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages