Laporan KKN FAPERTA UNDANA KUPANG - MahasiswaAbadi

MahasiswaAbadi

Blog ini berisi materi- materi kuliah yang mungkin berguna bagi pengunjung

Boxed(True/False)

test banner

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Laporan KKN FAPERTA UNDANA KUPANG

Share This


Nama              : Thadeus Amekae
Nam                : 1304062059
Fakultas         : Pertanian
JURUSAN     : Agroteknologi/ agronomi

A.        Latar Belakang
Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Nusa Cendana merupakan salah satu bentuk kegiatan yang memberikan pengalaman belajar kepada mahasiswa untuk hidup di tengah- tengah masyarakat di luar kampus sekaligus sebagai proses pembelajaran serta mengabdi kepada masyarakat yang sedang membangun dan secara langsung mengidentifikasi serta menangani masalah-masalah pembangunan yang sedang dihadapi.
Desa Golo mangung merupakan salah satu desa yang berada di kecamatan Lambaleda Kabupaten Manggarai timur. Desa ini terdiri dari 3 Dusun yaitu golo kadhung, cunga teno, dan ngancar. Sebagian besar penduduk di Desa Golo mangung memiliki mata pencaharian sebagai petani dan peternak. Komoditi pertanian yang paling unggulan di desa ini adalah kemiri, jambu mete, dan kakao. Ketiga komoditi ini merupakan sumber pendapatan petani di desa tersebut.
Pada pelaksanaan KKN di desa Golo mangung ada 2 program yang di lakukan yaitu individu dan kelompok. Salah satunya adalah program individu, Dimana setiap mahasiswa KKN wajib membuat program yang sesuai dengan jurusannya. Adapun program KKN yang telah dijalankan yaitu: teknik budidaya tanaman kangkung, mengaplikasikan sistem irigasi tetes pada tanaman, dan pembuatan pupuk kompos sekaligus aplikasinya.
B.     Tujuan
Adapun tujuan dari pelaksanaan program individu adalah:
1.      Sebagai sarana latihan bagi mahasiswa untuk berinteraksi dan bekerja sama dengan masyarakat.
2.      Sebagai kesempatan bagi mahasiswa untuk mewujudkan dharma bakti kepada masyarakat.
3.      Sebagai media untuk menerapkan pengalaman teoritis tentang ilmu pegetahuan dan teknologi yang dimiliki.
4.      Merupakan suatu kesempatan bagi mahasiswa untuk melatih cara berpikir dan daya kreativitas dalam menghadapi suatu masalah dalam masyarakat.
5.      Untuk membantu Masyarakat dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan  hukum, khususnya cara penyelesiaannya.
6.      Sebagai bekal bagi mahasiswa KKN apabila kembali hidup di tengah-tengah masyarakat, dapat membantu menyelesaikan berbagai permasalahan yang ditemui dengan program dan kegiatan yang positif bagi perbaikan dan perkembangan taraf hidup masyarakat ke arah yang lebih baik.
























Program I. Teknik budidaya tanaman kangkung
A.    Latar belakang
Kangkung termasuk sayuran yang populer dan digemari masyarakat Indonesia. Tanaman kangkung berasal dari India sekitar 500 SM, yang kemudian menyebar ke Malaysia, Birma, Indonesia, Cina Selatan, Australia dan Afrika. Nama latin kangkung adalah Ipomoea reptans.
Kangkung bergizi tinggi dan lengkap dengan kandungan yang ada pada kangkung seperti kalori, protein, lemak, karbohidrat, serat, kalsium, posfor, zat besi, natrium, kalium, vitamin A, vitamin B, vitamin C, karoten, hentriakontan, dan sitosterol. Senyawa kimia yang dikandung adalah saponin, flavonoid, dan poliferol.
Kangkung merupakan tanaman yang bermanfaat. Kangkung mempunyai senyawa yang dapat digunakan untuk pengobatan bagi penderita susah tidur. Serat pada kangkung sangat baik untuk mencegah konstipasi sehingga dapat menghalangi terjadinya kanker perut. Karetenoid dalam tubuh akan diubah menjadi vitamin A serta klorofil tinggi. Kedua senyawa ini berperan sebagai antioksidan yang berguna untuk mencegah penuaan dan menghalangi mutasi genetik penyebab kanker (Wirakusumah, 1998).
Ada beberapa macam tipe kangkung seperti yaitu Kangkung darat (Ipomea reptans) dan Kangkung air (Ipomea aquatica). Kangkung darat memiliki ciri seperti corak warna yang hijau cerah, bunga yang putih dan batang dahang ujung pohonnya yang meruncing kecil, daunnya yang tipis dan kecil-kecil. Dalam laporan membahas tentang Kangkung darat (Ipomea reptans).
B.     Tujuan
1.       Untuk mengetahui cara budidaya tanaman kangkung yang baik.
C.     Syarat Tumbuh
1)      Iklim
Kangkung darat (Ipomea reptans) dapat tumbuh pada daerah yang beriklim panas dan beriklim dingin. Jumlah curah hujan yang baik untuk pertumbuhan tanaman ini berkisar antara 500-5000 mm/tahun. Tanaman kangkung membutuhkan lahan yang terbuka atau mendapat sinar matahari yang cukup. Kangkung sangat kuat menghadapi panas terik dan kemarau yang panjang.
2)      Media Tanam
Kangkung darat (Ipomea reptans) menghendaki tanah yang subur, gembur banyak mengandung bahan organik dan tidak dipengaruhi keasaman tanah.
3)      Ketinggian Tempat
Kangkung dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai dataran tinggi (pegunungan) ± 2000 meter dpl. Baik kangkung darat maupun kangkung air, kedua varietas tersebut dapat tumbuh di mana saja, baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Hasilnya akan tetap sama.
D.     Waktu pelaksanaan
Waktu pelaksanaan penanaman dimulai tanggal 20 juli dan tempat pelaksanaan pratikum  dilakukan di dusun cunga teno, desa golo mangung. Adapun tahapannya sebagai berikut:
1.       Pembersihan lahan
Sebelum melakukan budidaya kangkung terlebih dahulu melakukan pembersihan lahan dari gulma- gulma atau tanaman pengganggu.
2.       Pembuatan bedengan
Pembuatan bedengan dilakukan setelah lahan dibersikan. Dilakukan secara manual dengan menggunakan cangkul. Dilanjutkan dengan perataan tanah. Jumlah bedengan 2 dengan luas masing- masing 5 m x 1 m yaitu 5 m2
3.       Pengukuran jarak tanam
Pengukuran jarak tanam dengan menggunakan meteran dengan jarak tanam 15x 15 cm dan jarak dari pinggir bedengan 10 cm. Pengukuran jarak tanam ini mempermudah dalam penanamannya.
4.       Penanaman
Penanaman dilakukan dengan sistem tugal dengan kedalaman lubang 2-3 cm. Setiap lubang ditanam 2 biji kangkung.
5.       Pemeliharaan
a.        Penyiraman
Penyiraman dilakukan 2 kali dalam sehari pagi dan sore harinya, agar ketersediaan air untuk tanaman tersedia sehingga tidak menghambat dalam pertumbuhannya. Namun penyiraman juga tergantung cuaca jika hujan tidak dilakukan penyiraman.
b.       Penyiangan
Penyiangan dilakukan apabila ada tanaman penganggu yang tumbuh disekitar tanaman kangkung. Penyiangan dilakukan tergantung pada pertumbuhan tanaman penganggu yang ada disekitar tanaman. Penyiangan ini bertujuan agar tidak terjadinya kompetisi antara tanaman kangkung dan gulma baik dalam penyerapan unsur hara, air dan cahaya matahari.
c.        Pemupukan
Pemupukan disini menggunakan pupuk organic kotoran babi yang diambil dari rumah warga dan pupuk urea. Pemupukan pupuk urea dilakukan dengan penyemprotan menggunakan handsprayer sedangkan pupuk kandang di tebar di atas bedengan
d.       Pemanenan
Panen dilakukan setelah tanaman berumur ± 30- 40 hari

Gambar budidaya tanaman kangkung

Program II. Pengaplikasian sistem irigasi tetes pada tanaman
A.    Latar belakang
Irigasi Tetes Sederhana adalah teknik penyiraman tanaman yang menggunakan sebuah tandon air atau tempat penampungan air yang diberi saluran untuk menetesi media tanam sedikit demi sedikit secara konstan, sehingga media tanam tetap tercukupi kebutuhan airnya, tanpa menjadi becek dan persediaan air tetap cukup untuk beberapa hari tanpa perlu disiram secara berkala oleh pemilik tanaman. Jenis-jenis Irigasi Tetes ada dua jenis irigasi tetes, yaitu : Irigasi tetes di atas permukaan tanah dan irigasi tetes di bawah permukaan tanah.
Pada irigasi tetes di atas permukaan tanah, tandon air diletakkan di atas tanah, sehingga air menetes ke bawah di permukaan tanah. Sedangkan pada irigasi tetes di bawah permukaan tanah, tandom air dikubur di dalam tanah sehingga air menetes dari samping tandon air dan merembes di sekitar akar tanaman.

B.     Cara Pembuatan

Bahan yang dibutuhkan hanyalah botol air mineral bekas, lebih bagus yang berukuran satu liter, atau yang besar. Jika yang akan dibuat adalah irigasi tetes diatas permukaan tanah, maka yang dilubangi adalah tutup botolnya. Lubang tidak boleh terlalu besar, secukupnya saja sehingga bisa menetes sesuai dengan banyaknya aliran yang dikehendaki. Sedangkan jika yang akan dibuat adalah jenks irigasi di bawah permukaan tanah, maka yang dilubangi adalah sisi-sisi botol, lubang juga harus kecil-kecil sehingga air diharapkan habis setelah sehari atau lebih.
Jika tempo penyiraman otomatis yang diinginkan lebih lama, yaitu sekitar dua tiga hari, maka lubang harus dibuat sangat sempit tetapi botol air mineral bisa diperbanyak, lebih dari satu untuk setiap tanaman.
Jika sudah jadi, maka tinggal mengisi air di dalam botol tersebut, dan meletakkan sesuai dengan jenis irigasi yang diinginkan, jika diatas permukaan tanah maka bisa digantungkan di dekat tanaman dengan tiang kayu seperti gambar berikut ini :
 
Gambar sistem irigai tetes pada papaya dan lombok

C.     Biaya

Biaya yang dibutuhkan untuk membuat irigasi tetes sederhana ini hampir nol atau gratis, karena bisa menggunakan botol air mineral bekas dan tiang penyangga dari kayu bekas atau batang yang tidak terpakai, biaya dibutuhkan hanya jika ditambahkan selang air, jarum atau pengatur aliran seperti infus.

D.     Keuntungan

Keuntungannya adalah pemilik tanaman tidak harus menyiram kebun secara berkala, cukup mengisi air pada tandon air (botol mineral) maka air tersebut akan menetes sendiri sedikit demi sedikit dan cukup untuk benerapa hari.

E.      Kerugian

Kerugian teknik ini adalah tampilan yang kurang bagus sehingga mengganggu keindahan taman dan tanaman yang dipasangi irigasi ini. Taman yang dipasangi irigasi tetes terasa urang elok dipandang karena banyak botol bekas dan selang yang mengganggu keindahan taman bunga atau kebun.

F.      Kesimpulan

Irigasi Tetes Sederhana sangat cocok untuk alternatif penyiraman tanaman bagi anda yang tidak punya waktu untuk merawat tanaman terlalu sering, dan memiliki tanaman yang memiliki kebutuhan pengairan yang cukup tinggi. Keuntungan utama dari teknik irigasi tetes sederhana ini adalah murah biayanya dan praktis karena pemilik tanaman tidak perlu terlalu sering mengurus atau menyiram tanaman. Sedangkan kelemahannya adalah tampilannya yang kurang bagus sehingga cenderung mengganggu keindahan pemandangan tanaman dan taman.

Program III. Pembuatan pupuk kompos dan aplikasinya
A.    Latar Belakang
Sampah merupakan sisa-sisa aktivitas makhluk hidup yang indentik dengan bahan buangan yang tidak memiliki nilai, kotor, kumuh, dan bau. Sampah organik seperti dedaunan yang berasal dari taman, jerami, rerumputan, dan sisasisa sayur, buah, yang berasal dari aktivitas rumah tangga (sampah domestik) memang sering menimbulkan berbagai masalah. Baik itu masalah keindahan dan kenyamanan maupun masalah kesehatan manusia, baik dalam lingkup individu, keluarga, maupun masyarakat. Masalah-masalah seperti timbulnya bau tak sedap maupun berbagai penyakit tentu membawa kerugian bagi manusia maupun lingkungan disekitarnya, baik meteri maupun psikis. Melihat fakta tersebut, tentu perlu adanya suatu tindakan guna meminimalkan dampak negatif yang timbul dan berupaya meningkatkan semaksimal mungkin dampak positifnya.
Salah satu cara yang dapat digunakan untuk meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan sampah organik domestik adalah mengolah sampah tersebut dengan teknik komposter tanpa penambahan aktivator pengomposan, disamping terdapat berbagai teknik pengolahan lain (dengan penambahan aktivator pengomposan) menghasilkan produk yang bernilai lebih, baik dari segi nilai ekonomi yaitu memiliki suplemen bagi tanaman.
Dalam melakukan teknik penomposan, ada berbagai hal yang perlu diperhatikan agar proses pengomposan berjalan dengan cepat sehingga masa panen relatif singkat dan cepat. Hal yang perlu diperhatikan antara lain adalah proses pencacahan yang sebisa mungkin halus sehingga mudah di dekomposisi, kelembaban dan aerasi yang mendukung kerja mikroorganisme, maupun kadar karbon dan Nitrogen yang ideal.
B.     Tujuan
Tujuan pembuatan kegiatan ini adalah:
Sebagai gambaran untuk melakkukan kegiatan komposting sampah organik domestik sehingga mampu menciptakan inovasi baru yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat maupun pemerintah.
C.     Cara Membuat Kompos
Metode yang dipakai yaitu konvensional atau tidak menggunakan komposter. Biasanya adonan kompos ditimbun dan ditutup dengan kain terpal. Selain kain terpal dapat digunakan pula karung goni atau sabut kelapa.
1.      Alat-alat yang dibutuhkan  Peralatan antara lain: parang/sabit, ember untuk menyiram, plastik penutup, cangkul. Penutup dapat menggunakan karung .
2.      Bahan
a.       Sampah organik domestic
Sampah ini dapat berupa sampah rumah tangga dan sampah taman. Sampah tersebut harus dipisahkan dari sampah plastik, logam, kaca, dll.
b.      Aktivator Pengomposan
dapat menggunakan kotoran ternak babi untuk mempercepat proses pengomposan.
c. Air
3.      Lokasi Pengomposan
Pengomposan sebaiknya dilakukan di dekat kebun yang akan diaplikasi kompos atau di dekat sumber bahan baku yang akan dibuat kompos. Pemilihan lokasi ini akan menghemat biaya transportasi dan biaya tenaga kerja. Lokasi juga dipilih dekat dengan sumber air. Karena apabila jauh dengan sumber air akan menyulitkan proses pengomposan.
4.      Tahapan Pengomposan
a. Memperkecil ukuran bahan. Untuk memperkecil ukuran bahan dapat dilakukan dengan menggunakan parang.
b. Menyiapkan aktivator pengomposan. Aktivator dilarutkan ke dalam air sesuai dosis yang dibutuhkan.
c. Injak-injak bahan yang dikomposkan tersebut agar memadat sambil disiram dengan aktivator pengomposan.
e. Tutup rapat semuanya dengan menggunakan karung.


Gambar. pupuk kompos hasil pencampuran sisa- sisa tanaman dengan kotoran babi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages