LAPORAN MAGANG "PENGARUH PEMOTONGAN UMBI BIBIT TERHADAP PERTUMBUHAN BAWANG MERAH - MahasiswaAbadi

MahasiswaAbadi

Blog ini berisi materi- materi kuliah yang mungkin berguna bagi pengunjung

Boxed(True/False)

test banner

Post Top Ad

Responsive Ads Here

LAPORAN MAGANG "PENGARUH PEMOTONGAN UMBI BIBIT TERHADAP PERTUMBUHAN BAWANG MERAH

Share This


I.       PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kebutuhan  benih  bawang  merah  di  Indonesia  pada  tahun  2009  sebanyak 120.020 ton, namun baru terpenuhi sebesar 16,47% yaitu 19.770 ton. Sebagian benih dipenuhi dari dalam negeri, sebagian lagi dari impor. Untuk mencukupi kekurangan benih tersebut, petani sering menggunakan benih hasil tanaman yang bermutu rendah dan tidak bersertifikat; baik yang berasal dari penanaman sendiri atau berasal dari umbi konsumsi; sehingga produktifitas pertanaman rendah (BPS, 2009).
Penanaman bawang merah di Indonesia pada umumnya dilakukan pada awal musim kemarau yaitu pada bulan (Maret-April) dan (Juli-Agustus). Benih berupa umbi hasil penangkaran musim kemarau (Maret-April) digunakan untuk memenuhi kebutuhan benih pada musim tanam berikutnya, yaitu bulan (Juli-Agustus), begitu pula sebaliknya umbi hasil penangkaran bulan (Juli-Agustus) digunakan untuk memenuhi kebutuhan benih pada bulan (Maret-April). Umbi hasil penangkaran bulan (Juli-Agustus) tidak terdapat kendala, karena antara pemanenan dan penanaman berikutnya memiliki selang waktu yang cukup lama,  sehingga ada waktu penyimpanan sebelum umbi ditanam. Namun umbi hasil penangkaran pada musim tanam (Maret-April), memiliki selang waktu yang singkat antara pemanenan dan penanaman berikutnya pada musim tanam (Juli-Agustus). Dalam hal ini benih disimpan kurang dari dua bulan, sehingga benih belum cukup baik karena kemungkinan benih masih dorman, umbi yang akan digunakan sebagai bahan tanam biasanya disimpan selama 1 sampai 2 bulan untuk menghilangkan dormansi (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).
Dormansi bawang merah merupakan dormansi fisiologis (dormansi sekunder), adalah  embrio  yang  belum  sempurna  pertumbuhannya  atau  belum  matang sehingga memerlukan jangka waktu tertentu agar dapat berkecambah. Umbi yang masih dalam masa dormansi tidak akan tumbuh dan memberikan respon pertumbuhan apabila ditanam, walaupun kondisi lingkungan pertumbuhan memenuhi. Hal ini dapat dilihat pada penelitian penyimpanan umbi  bawang merah yaitu selama 20 hari, 40 hari, dan 60 hari; yang menunjukkan bahwa semakin lama umbi disimpan daya tumbuh dan vigor semakin baik (99 %). Umbi yang disimpan selama 20-40 hari menunjukkan daya tumbuh dan vigor rendah (<85%) hal ini dikarenakan umbi tersebut masih mengalami masa dormansi, sehingga tidak disarankan menanam umbi bawang merah yang baru mengalami masa dormansi pada penyimpanan 20- 40 hari (Maemunah, 2010).
Kebiasaan petani di Indonesia menanam bawang merah (Allium cepa var ascabnicum L.)  dengan cara memotong bagian ujung umbi bibit sepanjang kurang lebih sepertiga bagian umbi. Bibit yang digunakan berupa umbi yang telah mengalami penyimpanan untuk menghentikan masa dormansinya. Pemotongan umbi dimungkinkan berkaitan dengan induksi etilen endogen dari luka akibat pemotongan umbi sehingga dapat mempercepat perkecambahan umbi. Etilen   adalah zat pengatur tumbuh endogen atau eksogen yang dapat menimbulkan berbagai respon fisiologis dan morfologis tanaman antara lain mendorong pemecahan dormansi tunas (Wattimena, 1987). Menurut (Jumini et al, 2010): pemotongan ujung umbi bawang merah memiliki beberapa keuntungan, antara lain dapat meningkatkan jumlah anakan dan bobot basah per-rumpun. Selain itu, pemotongan juga dapat merangsang pemunculan tunas, mempercepat pertumbuhan tanaman, serta merangsang pemunculan umbi samping, dan dapat mendorong terbentuknya anakan dan daun (Wibowo S, 2005), namun pada penelitian yang dilakukan oleh Sartono (1995) yang memotong umbi menjadi beberapa bagian menunjukkan bahwa umbi utuh memberikan persentase hidup 100%, dan pertumbuhan yang baik dibandingkan umbi yang dipotong. Semakin besar umbi yang dipotong, memberikan hasil yang semakin kecil.
Kebun Percobaan Mojosari merupakan salah satu instansi kerja di lingkup Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa timur yang fokus pada penelitian, penyediaan benih, pengembangan dan pelestarian pangan hortikultura. Penelitian yang dilaksanakan tidak terlepas dari prinsip- prinsip pertanian, sehingga dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi bagi mahasiswa pertanian , Kebun Percobaan (KP) Mojosari merupakan lembaga yang tepat untuk menambah pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan melalui kegiatan magang. Ada beberapa varietas komoditas utama di KP Mojosari yang merupakan mandate dari pemerintah Jawa timur antara lain padi, jagung, kedelai dan bawang merah.
Kegiatan magang merupakan salah satu mata kuliah yang menjadi syarat dalam menyelesaikan pendidikan SI di Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana. Kegiatan magang ini dilaksanakan diluar kampus bermaksud agar mahasiswa dapat melihat dengan langsung proses kerja di lapangan serta mapu menemukan permasalahan yang terjadi sekaligus mencarikan solusinya. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk menekuni bidang ilmunya dalam satu lembaga pendidikan saja, tetapi juga diharapkan secara langsung mampu menerapkan di dunia kerja. Kegiatan magang ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa timur di kecamatan Mojosari kabupaten Mojokerto.
Berdasarkan uraian di atas penulis menulis laporan magang ini dengan judul pengaruh pemotongan umbi terhadap pertumbuhan bawang merah (Allium cepa var ascabnicum L.).
B.     Tujuan
1.      Tujuan umum
Tujuan umum dari pelaksanaan kegiatan magang kerja mahasiswa ini adalah :
1.      Menerapkan ilmu pengetahuan yang didapat selama perkuliahan dalam bentuk kegiatan magang kerja.
2.      Melatih mahasiswa untuk bekerja mandiri di lapang dan sekaligus berlatih menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan yang sesuai dengan pekerjaan yang nati akan ditekuni oleh mahasiswa bersangkutan.
3.      Menambah wawasan mahasiswa dalam bidang pertanian secara luas.
2.      Tujuan khusus
Kegiatan magang kerja mahasiswa ini bertujuan untuk:
1.      Mengetahui pengaruh pemotongan umbi bibit terhadap pertumbuhan bawang merah (Allium cepa var ascabnicum L.).
2.      Mengetahui pentingnya pemotongan 1/3 bagian umbi bibit bawang merah.
3.      Mengetahui fungsi dari pemotongan 1/3 bagian umbi bibit bawang merah.
C.    Manfaat
Manfaat kegiatan magang mencangkup manfaat bagi mahasiswa, Universitas Nusa Cendana, dan Kebun Percobaan Mojosari, yaitu:
1.      Bagi mahasiswa, dapat menambah pengetahuan, pengalaman, serta ketrampilan yang nyata di lapangan terkait dengan teknik pemotongan umbi bibit terhadap pertumbuhan bawang merah (Allium cepa var ascabnicum L.).
2.      Bagi Universitas Nusa Cendana adalah, terjadinya jalinan kerjasama dengan beberapa perusahaan atau kelompok tani atau instansi terkait dalam penyelenggaraan proses pembelajaran untuk mahasiswa.
3.      Bagi Kebun Percobaan Mojosari, dapat terwujudnya kegiatan pelayanan kepada masyarakat termasuk pelayanan kegiatan magang dalam upaya desiminasi informasi atau pelayanan dibidang pertanian khususnya dalam teknik pemotongan umbi bibit terhadap pertumbuhan bawang merah (Allium cepa var ascabnicum L.).










II.    TINJAUAN PUSTAKA
A.    Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Bawang Merah (Allium cepa var ascabnicum L.)
Klasifikasi tanaman bawang merah menurut Rukmana (2003) adalah sebagai berikut:
Divisio                   : Spermatophyta
Sub division          : Angiospermae
Kelas                     : Monocotyledonae
Ordo                      : Liliales (Liliflorae)
Famili                    : Liliales
Genus                    : Allium
Spesies                  : Allium cepa var ascabnicum L.
Bawang merah termasuk jenis tanaman semusim ( berumur pendek ) dengan tanaman berbentuk rumpun. Tinggi tanaman berkisar antara 15- 25 cm, berbatang semu, berakar serabut pendek yang berkembang di sekitar permukaan tanah , dan perakarannya dangkal. Sehingga bawang merah tidak tahan terhadap kekeringan. Daunnya memanjang dan berbentuk silindris. Pada cakram (discus). Di antara lapis kelopak daun terdapat tunas lateral atau anakan, sementara di tengah cakram adalah tunas utama (inti tunas). Di lingkungan yang cocok, tunas- tunas lateral akan membentuk cakram baru sehingga terbentuk umbi lapis. Sedangkan pada tunas utama (tunas apikal) yang tumbuhnya lebih dulu, kelak akan menjadi bakal bunga (primordial bunga). Setiap umbi yang tumbuh akan berkembang menjadi anakan yang masing- masing juga menghasilkan umbi (Samadi dan Cahyono, 2005).
B.     Perbanyakan Umbi Bawang Merah
Salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan usaha peningkatan produksi bawang merah adalah ketersediaan benih/ bibit bermutu. Produsen benih bawang merah di sentra- sentra produksi biasanya adalah petani yang memiliki usaha relatif luas atau petani individual yang menyisihkan sebagian hasil panen  untuk digunakan sebagai benih musim tanam berikutnya. Beragamnya pengetahuan serta teknologi perbenihan yang berkembang dalam sistem tersebut menyebabkan terjadinya variasi mutu benih yang tinggi. Observasi lapangan juga mengindikasikan bahwa sistem ini secara tidak langsung memungkinkan terjadinya fluktuasi harga benih yang sangat tajam (Litbang, 2010).
Pada umumnya bawang merah diperbanyak dengan menggunakan umbi sebagai bibit. Umbi yang baik untuk bibit harus berasal dari tanaman yang sudah cukup tua umurnya yaitu 70- 80 hari setelah tanam dengan ukuran 5- 10 gram, dengan tampilan segar dan sehat, bernas dan tidak keriput, dan warnanya cerah (tidak kusam). Sebelum ditanam, kulit luar umbi yang mengering dibersihkan. Untuk umbi bibit yang umur simpannya kurang dari 2 bulan biasanya dilakukan pemotongan ujung umbi sepanjang kurang lebih sepertiga bagian dari seluruh umbi, dengan tujuan untuk mempercepat pertumbuhan tunas dan merangsang tumbuhnya umbi samping (Wibowo, 2005).
Selama ini praktek pemotongan ujung umbi bawang merah bertujuan untuk mematahkan dormasi benih agar memacu pertumbuhan tunas baru. Menurut (Jumini et al, 2010), pemotongan ujung umbi bibit kira- kira 1/3 atau 1/4 bagian dari panjang umbi, bertujuan agar umbi tumbuh merata, dapat merangsang tunas, mempercepat tumbuhnya tanaman, dapat merangsang tumbuhnya umbi samping dan dapat mendorong terbentuknya anakan. Pada cakram terdapat mata tunas yang mampu tumbuh menjadi tanaman baru yang disebut tunas lateral atau anakan, dimana anakan ini akan membentuk cakram baru sehingga membentuk umbi lapis yang baru (Yeti dan Elita, 2008).
C.    Pentingnya pemotongan Umbi Bibit Bawang Merah
Pemotongan umbi dimungkinkan berkaitan dengan induksi etilen endogen dari luka akibat pemotongan umbi sehingga dapat mempercepat perkecambahan umbi. Etilen adalah zat pengatur tumbuh endogen atau eksogen yang dapat menimbulkan berbagai respon fisiologis dan morfologis tanaman antara lain mendorong pemecahan dormasi tunas (Wattimena, 1987). Menurut (Jumini et al, 2010), pemotongan ujung umbi bawang merah memiliki beberapa keuntungan antara lain, dapat meningkatkan jumlah anakan dan bobot basah per-rumpun. Selain itu, pemotongan juga dapat merangsang pemunculan tunas, mempercepat pertumbuhan tanaman, serta merangsang pemunculan umbi samping, dan dapat mendorong terbentuknya anakan dan daun (Wibowo S, 2005).
D.    Umur Simpan Benih Bawang Merah
Umur simpan adalah waktu yang diperlukan oleh produk pangan dalam kondisi penyimpanan tertentu untuk dapat mencapai tingkat degradasi mutu tertentu. Perhitungan umur simpan adalah dengan menyimpan satu seri produk pada kondisi normal sehari- hari sambil dilakukan pengamatan terhadap penurunan mutunya hingga mencapai tingkat mutu kadaluarsa (Herawati, 2008).
Umur simpan umbi bawang merah sangat pendek. Umur simpan umbi yang sangat pendek tidak dapat dirubah karena memang secara genetis umbi bawang merah berair tidak seperti benih tanaman lainnya, missal dengan bawang putih kandungan airnya lebih banyak bawang merah, apalagi dengan tanaman sayuran lainnya yang benihnya berupa biji. Oleh karenanya salahsatu hal untuk mensiasati agar umur simpannya dapat diperpanjang beberapa hari yaitu dengan menyimpan benih pada kadar air yang sesuai. Sehingga perlu pengeringan sampai kering askip sebelum disimpan di gudang. Susut bobot yang tinggi dapat dikurangi dengan keringnya umbi sebelum disimpan di gudang. Selain itu dengan kebersihan gudang dan keluar masuknya udara yang baik dalam gudang akan mengurangi susut bobot umbi dan mengurangi serangan OPT gudang (Febrianto, 2011).
Penyimpanan yang umum dilakukan di Indonesia saat ini adalah penyimpanan tradisional yang akan menghasilkan susut bobot atau kehilangan berat sekitar 25 %. Kehilangan berat yang sekitar itu diharapkan dapat ditekan hingga 10- 17 % dengan pengendalian lingkungan penyimpanan, misalnya temperatur dan kelembaban (Komar et al, 2001).



























III. GAMBARAN UMUM LOKASI MAGANG
A.    Sejarah Kebun Percobaan Mojosari
Kebun Percobaan Mojosari bernaung di bawah Balai Pengkajian Pertanian Jawa Timur Malang, ketinggiannya ± 28 m dpl pada 112,280  BT dan 7,300 LS. Luas perkebunan Mojosari 30,024 ha terdiri di sebelah selatan 20,79 ha dan sebelah utara 9,945 ha. Jenis tanah di KP Mojosari didominasi tanah Regosol kelabu.
Kebun Percobaan Mojosari terletak 13 km dari Kabupaten Mojokerto dan 3 km dari Kecamatan Mojosari. Adapun nama-nama sebelumnya dari KP Mojosari adalah :
1.      Tahun 1937 bernama         : LAND BOWN HENDG DE BUITENZERG (KP MOJOSARI                                               ALGEMENE DROEF STATION VAN DE LANDBOU).
2.      Tahun 1944, bernama        : WOOZI SISIKENZYOOTYOO.
3.      Tahun 1952, bernama        : BALAI BESAR PENYELIDIKAN TEKNIK PERTANIAN                                                   (BBPTP).
4.      Tahun 1951, bernama        : LEMBAGA PENELITIAN UBI-UBIAN DAN KACANG-                                                    KACANGAN (LPUK).
5.      Tahun 1966, bernama        : LEMBAGA PUSAT PENELITIAN PERTANIAN (LPPP).
6.      Tahun 1968, bernama        : PERWAKILAN LEMBAGA PUSAT PENELITIAN                                                               PERTANIAN JAWA TIMUR.
7.      Tahun 1980, bernama        : BALAI PENELITIAN TANAMAN PANGAN MALANG                                                     (SK. No. 861/Kpts/Org/12/80/tgl. 2 – 12 - 1980).
8.      Tahun 1984, bernama        : SUB. BALAI PENELITIAN TANAMAN PANGAN MOJOSARI                                         (SK. No. 613/Kpts/OT. 210/8/84/tgl. 16 – 8 - 1984).
9.      Tahun 1994, bernama        : INSTALASI PENELITIAN DAN PENGKAJIAN           TEKNOLOGI                                            PERTANIAN MOJOSARI (IPPTP)(SK. No. 798/Kpts/OT.                                                      210/12/94/tgl. 13 – 12 - 1994).
10.  Tahun 2002, bernama        : KEBUN PERCOBAAN MOJOSARI (KP) BPTP JAWA                                                                     TIMUR.Tgl. 23 Juli 2002 OT/210. 054. 2002                     
B.     Tugas dan Fungsi Kebun Percobaan  Mojosari
Berdasarkan SK. Menteri Pertanian No.OT/210.054.2002 tanggal 23 Juli 2002, bahwa Kebun Percobaan Mojosari adalah bagian interal dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jatim di Malang.
Adapun tugas dan fungsi Kebun Percobaan Mojosari adalah sebagai berikut :
1.      Membantu melaksanakan penelitian dan pengkajian teknologi sistem usaha tani tanaman semusim dataran rendah.
2.      Menyediakan benih tanaman pangan hortikultura dataran rendah.
3.      Penyediaan model sistem usaha tani atau percobaan rakitan tekhnologi produksi tanaman pangan dan hortikultura dataran rendah.
4.      Pelestarian materi plasmanutfah.
5.      Pelaksanaan urusan  tatausaha kebun percobaan.
Untuk dapat mencapai tujuan yang telah digariskan tersebut, hendaknya disesuaikan dengan sumberdaya dan dana yang tersedia, sehingga pelaksanaan setiap kegiatan dapat berjalan dengan lancar, efisien, dan efektif. Pembinaan dan peningkatan kualitas sumberdaya manusia merupakan prioritas utama untuk ditangani, utamanya untuk peningkatan etos kerja.
Pelaksanaan pengawasan melekat di Unit Kerja KP Mojosari, mencakup bidang organisasi,  pengelolaan, kepegawaian, keuangan, perlengkapan dan pelayanan masyarakat.
Di bidang organisasi, KP Mojosari merupakan salah satu instansi kerja di lingkup BPTP Jatim yang dipimpin oleh seorang kepala non struktural berdasarkan SK.Menteri Pertanian No. 124/Kpts/KP.430/3/95 tanggal 1 Maret 1995 dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala BPTP Jatim No. OT.210.506.5.207 tanggal 14 Juni 1995, tentang Organisasi dan Tata Kerja Kebun Percobaan Mojosari, Pelaksanaan Tugas Pelayanan Teknik, Tatausaha, Pelaksanaan Kerjasama dan Informasi, Pelaksanaan Sarana Penelitian Kepegawaian dan Rumah Tangga, Keuangan dan Rencana Kerja.
















C.    Struktur Organisasi Kebun Percobaan Mojosari
STRUKTUR ORGANISASI
KEBUN PERCOBAAN MOJOSARI








Kelompok Peneliti &                   Jabatan Fungsional lain
 
 
















Gambar 1. Struktur Organisasi Kebun Percobaan Mojosari

D.    Tugas dan Fungsi Masing-Masing Pelaksanaan Tugas
Tugas dan fungsi masing-masing pelaksana tugas adalah :
1.      Kepala kebun mempunyai tugas secara menyeluruh.
2.      Pelaksana tugas tatausaha mempunyai tugas melakukan urusan kepegawaian, keuangan, dan penyiapan bahan rencana kerja serta rumah tangga Kebun Percobaan Mojosari.
3.      Pelaksana kepegawaian dan rumah tangga mempunyai tugas melakukan urusan kepegawaian, surat menyurat, kearsipan, rumah tangga dan perlengkapan.
4.      Pelaksana keuangan dan rencana kerja mempunyai tugas melakukan urusan keuangan dan penyiapan bahan rencana kerja.
5.      Pelaksana tugas pelayanan teknis mempuyai tugas melakukan pelayanan sarana teknik kegiatan penelitian dan pengkajian teknologi pertanian.
6.      Pelaksana kerjasama dan informasi mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan kerja sama penelitian dan pengkajian informasi hasil penelitian dan pengkajian.
7.      Pelaksana sarana mempunyai tugas melakukan penyiapan pendayagunaan dan pemeliharaan sarana teknik.
8.      Kelompok Peneliti mempunyai tugas melakukan penelitian pengkajian dan perakitan teknologi pertanian bidang tanaman pangan tepat guna spesifik lokasi Jawa Timur.
E.     Sumber Daya Manusia
Untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari Kebun Percobaan Mojosari didukung oleh satu orang tenaga kerja dengan perincian sebagai berikut :
1.      Tenaga  PNS                     : 20 orang
2.      Tenaga  Harian tetap         :   3 orang
3.       Tenaga Harian Lepas       : 30 orang
4.       Sarjana (S2)                      :  1 orang
5.       Sarjana (S1)                      :  4 orang
6.      SLTA                                :  7 orang
7.      SD / SLTP                         :  8 orang
Total TenagaKerja                   : 53 orang



















BAB IV. METODE MAGANG
A.    Waktu dan Lokasi Kegiatan
Magang ini telah dilaksanakan di Kebun Perobaan Mojosari (BPTP Jawa Timur) di Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Kegiatan magang ini dilaksanakan sesuai jadwal pada setiap hari di Kebun Percobaan Mojosari yang dilaksanakan pada tanggal 01 Agustus 2016- 30 Agustus 2016.
B.     Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam kegiatan magang ini antara lain: pacul, sabit, penggaris, kamera, dan alat tulis menulis. Sedangkan bahan yang digunakan adalah bibit bawang merah.
C.    Cara Kerja
1.      Persiapan alat dan bahan
Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam melaksanakan praktek serta penentuan tempat praktek yang sesuai dengan karakteristik yang diharapkan.
2.      Persiapan lahan
Persiapan lahan ini meliputi pembersihan lahan, pengolahan tanah, dan pemberian pupuk. Pembersihan lahan dilakukan dengan maksud membersihkan gulma dan sisa- sisa tanaman kemudian digemburkan agar aerasi dan drainasenya sesuai dengan yang diinginkan. Lahan dibentuk menjadi 2 petak, masing- masing berukuran 80x 80 cm, tinggi petakan 15 cm, dan jarak antara petak 15 cm. kedua petak diberikan label untuk pembeda perlakuan. Pada saat persiapan lahan dilakukan pengaplikasian pupuk organik kotoran sapi sebagai pupuk dasar sesuai perlakuan perimbangan pupuk organik yaitu 20 ton/ ha atau 1 ½ kg per- petak.
3.      Persiapan bahan tanam
Bahan yang digunakan berupa umbi bibit varietas bima curut. Umbi yang digunakan adalah yang berukuran sedang dengan berat 4 gr, dengan kriteria umbi yang baik: umbi bergaris tengah kurang lebih 2 cm berwarna cerah tanpa adanya bercak hitam  yang merupakan tanda adanya spora. Umbi yang telah disiapkan, dipotong bagian ujungnya (pucuk) secara melintang dengan menggunakan pisau bersih untuk menghindari kontak dengan patogen. Pemotongan ujung umbi dilakukan sesuai dengan perlakuan pemotongan umbi yaitu 6 umbi dipotong setebal 1/3 bagian dari pucuk dan kontrol atau tanpa perlakuan pemotongan umbi.
4.      Penanaman
Penanaman dilakukan dengan pengaturan jarak tanam 15x 20 cm dalam satu petak atau bedeng berukuran 80x 80 cm sehingga populasi tanaman bawang merah yang diperoleh adalah 12 tanaman. Penanaman dilakukan dengan cara membenamkan seluruh bagian umbi sebatas ujung potongan umbi kemudian permukaannya ditutup tanah tipis.
5.      Pemeliharaan tanaman
Pemeliharaan tanaman meliputi pemupukan, pengairan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman seperti gulma dan hama/ penyakit tanaman (jika ada).
D.    Metode Pelaksanaan
Metode pelaksanaan meliputi beberapa kegiatan seperti diuraikan di bawah ini antara lain:
1.      Praktek
Praktek merupakan kegiatan inti selama magang, yaitu mahasiswa terlibat secara aktif untuk melakukan kegiatan- kegiatan yang terkait dengan penanaman bawang merah.
2.      Pengamatan di lapangan
Kegiatan observasi dilakukan untuk mengamati pertumbuhan dan perkembangan tanaman bawang merah.
3.      Wawancara
Kegiatan wawancara dilakukan dalam rangka mencari informasi tentang gambaran umum kebun percobaan Mojosari serta kegiatan- kegiatan teknik penanaman dan pemupukan tanaman bawang merah.
4.      Studi pustaka
Studi pustaka dilakukan untuk memperoleh refrensi yang terkait dengan kegiatan teknik penanaman bawang merah untuk mendapatkan produksi yang tinggi, yang diperlukan dalam penulisan laporan magang. Refrensi diperoleh melaui buku, laporan magang sebelumnya, dan hasil penelitian yang terkait dengan judul laporan magang pada perpustakaan Kebun Percobaan Mojosari.
E.     Variabel Pengamatan
Variabel pengamatan kegiatan magang pada pengaruh pemotongan umbi terhadap pertumbuhan bawang merah yaitu tinggi tanaman per- rumpun dan jumlah tunas per-rumpun.
1.      Tinggi tanaman
Pengukuran tinggi tanaman dilakukan dari permukaan tanah hingga ujung daun tertinggi dengan menggunakan penggaris. Pengukuran dilakukan sebanyak empat kali dengan interval dua hari sekali setelah tanaman berumur 7 Hari Setelah Tanam (HST).
2.      Jumlah tunas
Menghitung jumlah tunas yang tumbuh pada setiap rumpun tanaman. Pengukuran dilakukan dua hari sekali bersamaan dengan pengukuran tinggi tanaman.



V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil dan Pembahasan
Tabel 1. Rata- rata tinggi tanaman dan jumlah tunas perlakuan pemotongan 1/3 bagian umbi bibit bawang merah dan kontrol atau tanpa perlakuan pemotongan umbi bibit.
Umur
Tinggi tanaman (cm)
Jumlah tunas
Dipotong
Kontrol
Dipotong
Kontrol
7 HST
3.82
2.88
3
2
9 HST
8.25
6.68
3
2
11 HST
15.65
15.5
3
2
13 HST
20.53
20.20
3
2

Pada awal pertumbuhan bawang merah, tunas bawang merah muncul dan tumbuh dengan baik. Kendala yang dihadapi adalah adanya gulma yang tumbuh bersamaan dengan anakan bawang merah. Jenis- jenis gulma yang tumbuh antara lain: jenis rumput, jenis teki, dan berdaun lebar. Hal ini akan menyebabkan persaingan unsur hara antara bawang merah dan gulma. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengendalian secepatnya. Pengendaliannya dilakukan secara fisik yaitu dengan mencabut gulma yang tumbuh.
Pengukuran tinggi tanaman bawang merah dilakukan setelah tanaman berumur satu minggu setelah tanam (MST) dengan interval dua hari sekali selama empat kali pengamatan. Pengukuran tinggi tanaman bawang merah dilakukan dengan cara mengukur tanaman dari permukaan tanah hingga ujung daun tertinggi. Pengukuran tinggi tanaman dan jumlah tunas dilakukan pada waktu yang bersamaan hingga empat kali pengukuran atau pengamatan.
Sesuai dengan data pada tabel hasil pengukuran tinggi tanaman dan jumlah tunas menunjukan bahwa tinggi tanaman bawang merah mengalami peningkatan seiring dengan pertambahan umurnya. Artinya tanaman ini memiliki kemampuan tumbuh yang baik pada masing – masing perlakuan. Pada kolom tabel perlakuan pemotongan umbi menunjukan bahwa perlakuan pemotongan umbi memiliki pertumbuhan awal (7- 9 hari setelah tanam) yang lebih baik daripada tanpa pemotongan atau kontrol. Hal ini dimungkinkan berkaitan dengan induksi etilen dari luka akibat pemotongan umbi sehingga dapat mempercepat pertumbuhan tunas tanaman bawang merah. Etilen adalah zat pengatur tumbuh endogen dan eksogen yang dapat menimbulkan berbagai respon fisiologis seperti mempercepat pertumbuhan tunas bagi tanaman (Wibowo S, 2005). Hal ini sangat bebeda dengan tanaman bawang merah ketika memasuki umur 11- 13 HST pertumbuhan tingginya relatif sama antara bawang merah yang dipotong dengan kontrolnya. Kemungkinan penyebabnya adalah perbedaan jumlah air yang diberikan pada saat penyiraman. Pada saat penyiraman tidak memperhatikan jumlah air sehingga salah satu perlakuan ada yang mendapatkan jumlah air yang lebih besar dari perlakuan lain.
Pengukuran jumlah tunas dilakukan setelah tanaman bawang merah berumur satu minggu setelah tanam dengan interval dua hari sekali selama empat kali pengamatan atau dilakukan bersamaan dengan pengukuran tinggi tanaman. Pengukuran jumlah tunas tanaman bawang merah dilakukan dengan cara melihat dan menghitung secara langsung jumlah tunas yang keluar pada seiap rumpun dan dicatat.
Sesuai dengan data pada tabel, rata- rata pengukuran tinggi tanaman dan jumlah tunas menunjukan bahwa pemotongan umbi sangat berpengaruh terhadap jumlah anakan bawang merah. Pada perlakuan pemotongan 1/3 bagian umbi bibit bawang merah menunjukan bahwa jumlah tunas yang muncul adalah rata- rata 3 anakan per- rumpun sedangkan pada kontrol atau tanpa perlakuan pemotongan umbi jumlah tunas yang muncul adalah rata- rata 2 (Data lengkap ada di lampiran). Hal ini disebabkan oleh induksi etilen dari luka akibat pemotongan umbi sehingga dapat mempercepat munculnya tunas karena tidak ada halangan untuk keluarnya tunas pada umbi bibit.
Menurut (Jumini et al, 2010), pemotongan ujung umbi bibit bawang merah kira- kira 1/3 atau ¼ bagian dari panjang umbi bawang merah bertujuan agar umbi bawang merah tumbuh merata, dapat merangsang tunas, mempercepat tumbuhnya tanaman, merangsang tumbuhnya umbi samping dan dapat mendorong terbentuknya anakan. Pada cakram bawang merah terdapat mata tunas yang dapat tumbuh menjadi tanaman bawang merah yang baru yang disebut dengan tunas lateral atau anakan, dimana anakan ini akan membentuk cakram baru sehingga membentuk umbi lapis yang baru (Yeti dan Elita, 2008).
Proses pemotongan umbi akan mempermudah pertumbuhan tunas pada umbi bibit bawang merah karena tidak menghalangi keluarnya pucuk tunas untuk tumbuh dan berkembang. Selain itu pertumbuhan tanaman akan menjadi lebih optimal dibandingkan dengan tanaman bawang merah tanpa perlakuan pemotongan umbi bibit. Ditambah lagi jika kondisi unsur hara yang tersedia dalam bentuk dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tanaman maka pertumbuhan tanaman akan lebih maksimal.
 Menurut Wibowo (2005) menyatakan bahwa pemotongan umbi bibit bawang merah dapat mempercepat pertumbuhan tanaman dan jumlah anakan bawang merah serta dapat mendorong pertumbuhan umbi samping. Selanjutnya Rukmana (2003) menambahkan bahwa pemotongan yang dilakukan pada umbi bibit bawang merah mempunyai beberapa keuntungan antara lain : pertumbuhan bibit merata (seragam), umbi bibit lebih cepat tumbuh dan berpengaruh terhadap banyaknya tunas dan jumlah daun sehingga hasil meningkat. Rendahnya nilai pertumbuhan dan hasil bawang merah pada perlakuan tanpa pemotongan umbi diduga diakibatkan oleh lambatnya keluar mata tunas dan dan pembentukan anakan terhambat dan mengakibatkan tanaman tumbuh tidak maksimal. Samadi dan Cahyono (2005) menyatakan bahwa pemotongan umbi bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan tunas dan meningkatkan jumlah anakan.
B. Kegiatan Tambahan
1.      Pengendalian hama keong mas secara fisik pada tanaman padi
Cara pengendalian hama keong mas secara fisik yaitu mengambil secara langsung keong mas yang ada di lahan dan dikumpulkan ke dalam wadah, untuk selanjutnya dijadikan pakan unggas. Tujuan pengendalian secara fisik ini adalah untuk mengurangi populasi keong mas sehingga kerusakan yang ditimbulkan pada tanaman padi dapat dikurangi. Kelebihan pengendalian hama keong mas secara fisik yaitu: cangkang keong mas yang dikendalikan tidak tertinggal di lahan sehingga bahaya menginjak cangkang keong mas dapat dihindari. Selain itu juga dapat meminimalisir penggunaan pestisida, dan daging keong mas bisa digunakan sebagai pakan unggas. Namun sistem pengendalian keong mas secara fisik ini masih memiliki kekurangan yaitu biaya tenaga kerja lebih besar dibandingkan dengan penggunaan pestisida dan waktu pengendaliannya relatif lebih lama sehingga tidak efisien.
2.      Persemaian padi tertutup varietas inpari 4
Persemaian padi tertutup dilakukan dengan cara menyiapkan terpal sebagai wadah, diatasnya ditebari arang sekam sebagai media. Selanjutnya melakukan penyiraman sehingga sekam menjadi lembab lalu menaburkan benih padi di atas sekam yang sudah diairi. Terakhir tutup rapat semuanya menggunakan terpal. Tujuan persemaian padi tertutup yaitu untuk menekan pertumbuhan gulma dan serangan hama burung pipit. Kelebihan sistem persemaian tertutup antara lain: pertumbuhannya cenderung seragam, menekan pertumbuhan gulma, menghindari benih terserang hama burung dan hama lain, waktu pindah tanam lebih cepat dibandingkan dengan cara konvensional, unsur hara bukan diperoleh melalui pemupukan melainkan kotiledon. Persemaian padi tertutup juga memiliki kekurangan yaitu proses persemaiannya lebih rumit dibandingkan cara konvensional.
3.      Pemupukan tanaman jagung varietas lamuru 2 minggu setelah tanam menggunakan ponska dan urea
Tujuan pemupukan tanaman ini adalah menambah ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Kelebihan pemupukan yaitu merangsang pertumbuhan vegetatif tanaman jagung, menyediakan unsur hara bagi tanaman, dan tidak membutuhkan biaya yang besar dibandingkan dengan pupuk organik. Namun pemupukan dengan menggunakan ponska dan urea kurang baik untuk struktur tanah, aerasi tanah dan drainase.
4.      Penyiangan gulma pada tanaman padi menggunakan mesin power wider
Tujuan penyiangan yaitu untuk mengendalikan gulma pada tanaman padi. Kelebihan menggunakan mesin Power Wider adalah lebih efisien waktu dibandingkan dengan cara manual, tidak membutuhkan tenaga kerja yang banyak sehingga dapat menghemat biaya. Kekurangan dari mesin Power Wider adalah tidak ramah lingkungan dan rumput tidak tercabut dengan sempurna.
5.      Penanaman jagung komposit ditanah yang diairi
Penanaman jagung komposit di tanah yang sudah diairi bertujuan untuk memperoleh pertumbuhan tanaman jagung yang seragam. Kelebihan menanam di tanah yang diairi adalah perkecambahan relatif seragam dan lebih cepat, tinggi tanaman jagung relatif seragam, memudahkan proses tugal karena tanahnya lembab, mempercepat proses ambibisi atau penyerapan air oleh benih jagung. Adapun kekurangannya yaitu perendaman dapat berpengaruh pada pestisida yang ada di biji jagung hilang sehingga berisiko terserang hama/penyakit.
6.      Pemotongan sisa-sisa jerami padi menggunakan mesin panen alpha
Tujuannya untuk membersikan sisa-sisa jerami padi, lebih cepat dan lebih mudah. Kelebihan mempercepat ,dan mempermudah dalam memotong sisa-sisa jerami. Kekurangannya Biaya pengadaan mesinnya mahal, Butuh tenaga ahli dalam pengoperasiannya.
7.      Menanam jagung manis dengan sistem basah atau diari sebelum tanam
Tujuannya untuk memperoleh pertumbuhan tanaman jagung yang seragam. Kelebihannya tinggi tanaman jagung relatif seragam, memudahkan proses tugal karena tanahnya lembab, mempercepat proses ambibisi atau penyerapan air oleh benih jagung. Kekurangan :Perendaman dapat berpengaruh pada pestisida yang ada di biji jagung hilang sehingga berisiko terserang hama/penyakit.
8.      Penanaman padi dengan metode jajar legowo secara manual (tanpa mesin tanam)
Tujuan penanaman secara Legowo adalah untuk meningkatkan populasi tanaman padi. Kelebihan dari sistem ini adalah hasil penanaman lebih rapi dan jumlah bibit yang ditanam sesuai dengan yang dianjurkaan yaitu 2-3 tanaman perlubang tanam. Kekurangannya membutuhkan biaya yang besar untuk membayar tenaga kerja, membutuhkan tenaga kerja yang banyak, kurang efisien waktu jika dibandingkan menggunakan mesin tanam.
9.      Pemupukan pada lahan persiapan penanaman bawang merah dengan menggunakan pupuk phonska, sidanik, dan petroganik
Tujuannya adalah menyediakan unsur hara bagi tanaman bawang merah. Kelebihannya Pada masa perkecambahan hingga fase vegetatif tanaman tentu membutuhkan banyak unsur hara sehingga unsur hara yang diperlukan bawang merah sudah tersedia dan langsung diserap. Kekurangannya unsur nitrogen yang terdapat pada pupuk phonska mudah menguap jika pemupukannya tidak dibenamkan ke dalam tanah.
10.  Penyulaman jagung komposit
Tujuannya untuk menggantikan populasi jagung yang tidak bertumguh. Kelebihannya mengembalikan populasi  jagung yang mati, meningkatkan hasil panen karena populasinya banyak.



























VI. PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil kegiatan magang yang telah dilakukan maka diperoleh kesimpulan bahwa:
1.      Pemotongan 1/3 bagian umbi berpengaruh terhadap kecepatan perkecambahan yaitu 3- 4 HST, sedangkan tanpa pemotongan umbi kecepatan perkecambahannya 3- 5 HST.
2.      Pemotongan 1/3 bagian umbi tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman. Tinggi tanaman pada perlakuan pemotongan umbi setelah tanaman bawang merah berumur 13 HST adalah rata- rata 20.53 cm sedangkan kontrolnya 20.20 cm.
3.      Pemotongan  1/3 bagian umbi berpengaruh terhadap jumlah tunas. Umbi bawang merah yang dipotong jumlah tunas rata- rata 3, sedangkan kontrolnya 2.
4.      Pemotongan umbi bibit bawang merah mempunyai keuntungan lain yaitu pertumbuhan bibit cenderung merata (seragam).
B.     Saran
Perlu adanya perhatian yang lebih serius terhadap kegiatan magang yang akan datang sehingga magang pada tahun yang akan datang akan lebih baik lagi.



















DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. 2009. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas             bawang merah Tahun 2009. Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. Jakarta.
Febrianto, D. 2011. Peran Vernalisasi dan Zat Pengatur Tumbuh dalam Peningkatan Pembungaan            dan Produksi Biji Bawang Merah di Dataran Rendah dan Dataran Tinggi. Tesis. Sekolah         Pascasarjana IPB. Bogor.
Herawati, M. 2008. Pengaruh Jarak Tanam dan Pemotongan Umbi Terhadap Pertumbuhan dan             Hasil Bawang Merah. Skripsi Fakultas Pertanian. Universitas Muria Kudus. (Tidak         Dipublikasikan)
Jumini, Sufyati, Y, dan Fajri, N., 2010, Pengaruh  Pemotongan  Umbi Bibit dan Jenis Pupuk Organik terhadap  Pertumbuhan  dan Hasil Bawang Merah, Jurnal Floratek Vol.5 No. 1. Hlm. 164-171.
Komar, N, Rakhmadiono, S & Kurnia, L 2001, ’Penyimpanan bawang merah pascapanen di Jawa   Timur, J. Teknologi Pertanian, vol. 2, no. 2, hlm. 79-95.
Litbang, 2010. Budidaya Bawang Merah. Kementerian Indonesia. Jakarta.
Maemunah, 2010. Viabilitas dan Vigor Benih Bawang Merah Pada Beberapa Varietas Setelah      Penyimpanan. J.Agroland 17 (1): 18-22, Maret 2010 ISSN: 0854-641X
Rahayu, E dan Nur Berliana. 1995. Bawang merah. Penebar Swadaya. Jakarta. 94 halaman.
Rubatzky, V. E. dan Yamaguchi, M. 1998. Sayuran Dunia 2: Prinsip, Produksi dan Gizi.        Penerbit Institut Teknologi Bandung. Bandung. 312 hlm.
Rukmana, R. 2003. Bawang Merah Budidaya dan Pengolahan Pasca Panen. Kanisius.    Yogyakarta.
Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan. Jilid III. Ditejemahkan oleh Diah R.    Lukman dan Sumaryono. ITB Press, Bandung.
Samadi,  B  dan  B,  Cahyono.,  2005,  Intensifikasi  Budidaya  Bawang  Merah, Kanisius, Yogyakarta, 74 hlm.
Sartono, P. 1995. Pengaruh Berbagai Macam Bawang merah (Allium cepa var. Ascalonicum         Becker) Pada Musim Penghujan di tempat Terbuka. Bul. Penel. Hort. Vol XXVII No. 3.             1995.
Wattimena, G.A. 1987. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Pusat Antar Universitas Bioteknologi.             Institut Pertanian Bogor. Bogor. 145 hlm.
Wibowo, S. 2005. Budidaya Bawang Putih, Bawang Merah  dan  Bawang Bombay. Penebar      Swadaya. Jakarta. 201 hlm.

Yetti, H dan E. Elita. 2008. Penggunaan Pupuk Organik Dan KCl Pada Tanaman Bawang        Merah. Fakultas Pertanian Universitas Riau. ISSN 1412-4424 vol 7 no 1: 13-18

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages